Dia duduk.. ketakutan di dua matanya
memperhatikan cawanku yang terbalik
dia berkata: anakku jangan sedih
Cinta bagimu seperti digariskan
Anakku.. mati syahid
orang yang mati atas agama cinta
cawanmu.. dunia menakutkan
dan hidupmu penuh pengembaraan dan peperangan
kau akan mencinta berkali-kali
dan mati berkali-kali
dan kau akan merindukan semua wanita bumi
dan kembali seperti raja yang kalah
dengan hidupmu.. anakku.. wanita,
dua matanya.. suci pujian
mulutnya.. tergambar seperti gugus
tawanya.. irama dan mawar
tapi langitmu mendung
dan jalanmu tertutup
tertutup
Baca selengkapnya..
Sunday, May 29, 2005
Saturday, May 07, 2005
Luka
Rintik-rintik kecil sisa hujan
basahi serpihan luka sepanjang jalan
Bawa asa turun ke got satu-satu
Mengalir ke arah nyata.. tercerai berai
Binar matamu lirik satu asa
Yang menyala di satu tapak tangan
Enggan membuka.. menggenggam
Saat kau ulurkan.. berjabatan
Derai satu sentuh pipi.. membentuk harap
Derai satu sentuh bibir.. menjelma desah
Derai satu sentuh dagu.. teragak-agak
Derai satu sentuh sepatu.. membuka luka
Derai satu masih tersisa.. Buaya..!
Lalu..
Dekap muka duduk di jendela
pandang arah..
kapal yang berangkat
meninggal harap.. membawa luka
25 Desember 1999
*Main Link
basahi serpihan luka sepanjang jalan
Bawa asa turun ke got satu-satu
Mengalir ke arah nyata.. tercerai berai
Binar matamu lirik satu asa
Yang menyala di satu tapak tangan
Enggan membuka.. menggenggam
Saat kau ulurkan.. berjabatan
Derai satu sentuh pipi.. membentuk harap
Derai satu sentuh bibir.. menjelma desah
Derai satu sentuh dagu.. teragak-agak
Derai satu sentuh sepatu.. membuka luka
Derai satu masih tersisa.. Buaya..!
Lalu..
Dekap muka duduk di jendela
pandang arah..
kapal yang berangkat
meninggal harap.. membawa luka
25 Desember 1999
*Main Link
Kepalsuan
Sepoi-sepoi angin tenggara
Tak ku duga dipanas siang itu
Sayup bisikkan sembilu
Iringkan gemersik daun-daun pepohonan
Sendu.. Sedih.. Pilu.. tiba menyatu
Air mata dipelupukku kebingungan
Kanan kiri sisi dipan kudekap resah
Coba tenangkan.. hati yang membeku
Sejak pasrahkan kepergianmu
Ku belai dinding kamar kasar
Cari jawaban.. mesti terjadi.. mengapa..?
Mungkinkah..?
Lesu.. Lusuh.. Lunglai.. tak bernyawa
Buat apa ku tanya senja
Binar mata kabur.. rangkulkan kabut putih
Tak kuasa.. kuperas.. alirkah arah
Atau titik satu-satu jelma mutiara
Bolehlah ufuk bermuram durja
Lembayung berarak di tangga darah
Sampaikan luka di singgasana malam
Gelap.. Pekat.. Sinar kepalsuan
Bersama segala pengkhianatan itu
8 Desember 1999
Main Link
Tak ku duga dipanas siang itu
Sayup bisikkan sembilu
Iringkan gemersik daun-daun pepohonan
Sendu.. Sedih.. Pilu.. tiba menyatu
Air mata dipelupukku kebingungan
Kanan kiri sisi dipan kudekap resah
Coba tenangkan.. hati yang membeku
Sejak pasrahkan kepergianmu
Ku belai dinding kamar kasar
Cari jawaban.. mesti terjadi.. mengapa..?
Mungkinkah..?
Lesu.. Lusuh.. Lunglai.. tak bernyawa
Buat apa ku tanya senja
Binar mata kabur.. rangkulkan kabut putih
Tak kuasa.. kuperas.. alirkah arah
Atau titik satu-satu jelma mutiara
Bolehlah ufuk bermuram durja
Lembayung berarak di tangga darah
Sampaikan luka di singgasana malam
Gelap.. Pekat.. Sinar kepalsuan
Bersama segala pengkhianatan itu
8 Desember 1999
Main Link
Katakan..! Aku Tinggalkan Karena Ku Mau
Patung Ramsis di alun-alun kota
Tegak berdiri.. tegar menatap satu arah
tangan terhimpit beton-beton baja
dihimpit desiran angin malam
Cahaya lampu berbinar-binar
Sempurnakan keindahan sekitar
peluk nafas-nafas kasih
duduk di sela berjejer.. bersandar
Matamu terbuka lebar-lebar
tanpa ketuk sepanjang jaman
mulutmu mengatup tanpa isak..
tanpa desah.. tanpa air mata
Tak ku tertawan di jurang nista
Menghibamu ikut rasakan kepergiannya..
kepiluan ini yang tiasa hati dan nyawa
Padamu.. ku masih bisa bersandar
rasakan kehangatan
Dalam sendiri yang sepi
Menghiba kasih yang sengaja pergi
27 Desember 1999
*Judulnya panjang bangat karena lupa judul aslinya, cuman pada bagian kertas puisi ini ada tertulis SAID I LEAVE CAUSE I WANT. Ya udah aku jadikan aja sebagai judul, daripada aku pusing-pusing mengingat-ingatnya.
Tegak berdiri.. tegar menatap satu arah
tangan terhimpit beton-beton baja
dihimpit desiran angin malam
Cahaya lampu berbinar-binar
Sempurnakan keindahan sekitar
peluk nafas-nafas kasih
duduk di sela berjejer.. bersandar
Matamu terbuka lebar-lebar
tanpa ketuk sepanjang jaman
mulutmu mengatup tanpa isak..
tanpa desah.. tanpa air mata
Tak ku tertawan di jurang nista
Menghibamu ikut rasakan kepergiannya..
kepiluan ini yang tiasa hati dan nyawa
Padamu.. ku masih bisa bersandar
rasakan kehangatan
Dalam sendiri yang sepi
Menghiba kasih yang sengaja pergi
27 Desember 1999
*Judulnya panjang bangat karena lupa judul aslinya, cuman pada bagian kertas puisi ini ada tertulis SAID I LEAVE CAUSE I WANT. Ya udah aku jadikan aja sebagai judul, daripada aku pusing-pusing mengingat-ingatnya.
Bunga Palsu
Enam ramadhan empat tahun lalu
Kau persembahkan sekuntum bunga
berbungkus plastik terikat pita merah muda
Empat tahun lalu
Kau harap hadirku di sisi
memeluk segala angan di hati
menadah tangan meminta-minta
mendesah lirih menahan nafas
Jawabnya tergantung di langit biru
Menanti angin bertiup menghapus..
Memburu awan mengumpul
Inginkan mentari meredup
Buangkan..
Sirnakan segala kesilauan
Kenapa..?
Ternyata masih misteri
berkalut harapan
Angin timur bertiup
Mengusir awan putih mulai menghitam
Cahaya mentari meredup
Menangis sedih di tepi barat
Merah darah.. air matanya
Mengalir deras.. habis di kegelapan
Sebagaimana pula kau harapkan
Jawab itu tinggal jawab
bergantung rapi tak terbaca
Sungguh.. hati ku pun enggan meraba
Bunga itu.. terlalu cantik
Terlalu indah..
Mekar abadi Tak kan layu..
tapi..
..Palsu
Baca selengkapnya..
Kau persembahkan sekuntum bunga
berbungkus plastik terikat pita merah muda
Empat tahun lalu
Kau harap hadirku di sisi
memeluk segala angan di hati
menadah tangan meminta-minta
mendesah lirih menahan nafas
Jawabnya tergantung di langit biru
Menanti angin bertiup menghapus..
Memburu awan mengumpul
Inginkan mentari meredup
Buangkan..
Sirnakan segala kesilauan
Kenapa..?
Ternyata masih misteri
berkalut harapan
Angin timur bertiup
Mengusir awan putih mulai menghitam
Cahaya mentari meredup
Menangis sedih di tepi barat
Merah darah.. air matanya
Mengalir deras.. habis di kegelapan
Sebagaimana pula kau harapkan
Jawab itu tinggal jawab
bergantung rapi tak terbaca
Sungguh.. hati ku pun enggan meraba
Bunga itu.. terlalu cantik
Terlalu indah..
Mekar abadi Tak kan layu..
tapi..
..Palsu
Baca selengkapnya..
Subscribe to:
Posts (Atom)