Thursday, November 18, 2010

Kisah Kita

Kisah lima belas tahun yang lalu
Tak terkira mampu kita ulang lagi dalam semalam
Dengan plot yang sedikit berbeda
Kali ini harus kita akui penuh dengan andai
Menimbang rasa dan dosa dalam setiap satu alenia
Masih sedramatis rentetan derita yang berceceran
di jalan-jalan sempit yang terasing
juga lebar luka yang menganga
dan hingga kini belum juga kering..

Tapi,
lapangkanlah hatimu karena di hatiku ada janji
yang kubesut sejak enam tahun lalu
harus berani mengambil langkah
mengalahkan diri sendiri
demi tentramku dan tentrammu
ending kisah dalam rilis ulang semalam ini
harus bisa kita ubah.. semampu jiwa menginginkan kejernihan dan ketulusan
mengadaptasi lakon dalam jatah durasi yang tersisa
Maka, tidak boleh ada yang menyerah
Memasrah diri pada kondisi, sementara waktu terus berjalan
Maka pula,
meski belum juga sanggup terucap,
satu kata itu sudah kupersiapkan untukmu,
bantulah aku..
bukankah pada akhirnya kita lebih baik berdamai dengan diri sendiri
dan masa lalu
bukankah pada akhirnya kita harus berbesar hati
mengukuh harap semua rangkaian kisah itu berakhir damai
dan penuh ketenangan



Jakarta, 19 November 2010

Friday, November 05, 2010

Terserah

Jelmakan aku dalam impianmu,
jelmalah kau dalam impianku
hanya di situlah kita bisa satu
adapun selain itu..
dengan alasan rasa takbisa dipaksa

jadilah kau wanita terburuk terbusuk
memainkan peran dengan senyuman
yang menusuk..
genggaman tanganmu
penuh duri yang menusuk..
menusuk..

jadilah kau apa saja kaumau
aku tidak akan mengutuk
aku tidak akan mengamuk
semua telah berada dalam satu
terserah..

28-10-2010

Thursday, August 19, 2010

Aku Indonesia

     Apa guna sejengkal tanah
     kini semua digenggam durjana
     dan kau tak lagi pinggiran
     semua sirna tersisihkan

          apa guna, kau Indonesia!
          merdeka tak merdeka sama
          jadi negri miskin papa
          terasing di tanah pijakan sendiri
          kecuali durjana

          Mau kau, Indonesia durjana!
          air mengalir penuh comberan
          menjerit pilu minamata
          kabut tebal perihkan mata
          agar bajingan lahap memangsa

          Jadilah kau, Indonesia!
          tumpah darah tumpah
          negeri air mata dan kekerasan.

     gerak sunyi di etalase
     menyisakan deru
     dan sisa-sisa debu
     setelah kau hujamkan kata-kata
     kepadaku

Dengar baik-baik!
Pelupukku Indonesia
rambutku hingga berubah warna, Indonesia
tulang belulangku hingga rontok, Indonesia
daging dan kulitku sampai keriput, Indonesia

Dengar baik-baik,
sekali lagi!
Indonesiaku Indonesia
Pertiwiku pertiwi
meski terbaring koma

Tak kusesal menjadi Republik
bersama pertiwi mengenang darah dan air mata
manusia-manusia merdeka
meski hutan tak lagi hijau
walau sungai mengering lumpur
Aku Indonesia

meski burung tak lagi bernyanyi
di pangkuan rimba, terlahir jiwa
tanah medeka
Aku Indonesia

Tak kusesal menjadi Indonesia
Darahku merah darah pertiwi
jiwaku putih jiwa merdeka
'kan kutebus nyawa seribu nyawa
siapa lancang membuyarkan
mimpi pertiwi
manusia merdeka


Cairo, 9 Agustus 2005

Tuesday, May 18, 2010

Sementara Cinta Panggilan Hati - Ananda Ibu Pertiwi

A new Post "Sementara Cinta Panggilan Hati" was written on the 19 May 2010 at 12:03 pm on "Ananda Ibu Pertiwi".

Setiap kali melihatnya, aku jatuh cinta Setiap kali mendengar
suaranya, aku jatuh cinta Tapi, aku tak bisa memaksa Ketika ia tak
lagi datang membawa cinta Mampuku hanya memejamkan mata dan menutup
telinga Setelah itu, Apatah lagi kuasaku melawan, sementara cinta
panggilan hati

_05/05/2010_

___ Gelap malam tidak akan pernah mencekikku, dan angin malam tidak
akan pernah menerkamku_

http://www.aman.web.id/2010-05-19/1587/sastra/puisi/sementara-cinta-panggilan-hati.html

Wednesday, March 24, 2010

Ananda Ibu Pertiwi: Aku Taklagi Berdaya

Aku Taklagi Berdaya


Sampai sejauh ini sudah kembara
kecuali berhitung beribu bunga yang layu
dan tumbang,
takkunjung jua berani kuraih kembali kenekatan masa lalu
          berdarah-darah jatuh bangun mengejar mimpi
          dan dengan geram yang menggertak tulang pipi
          mendobrak pintu-pintu rapat terkunci
          mencengkram kasih sejati,
          tanpa henti,
          menagih setia janji
Sementara langkah terus saja melacak dendam
yang tak pernah mampu membayar luka