Kisah lima belas tahun yang lalu
Tak terkira mampu kita ulang lagi dalam semalam
Dengan plot yang sedikit berbeda
Kali ini harus kita akui penuh dengan andai
Menimbang rasa dan dosa dalam setiap satu alenia
Masih sedramatis rentetan derita yang berceceran
di jalan-jalan sempit yang terasing
juga lebar luka yang menganga
dan hingga kini belum juga kering..
Tapi,
lapangkanlah hatimu karena di hatiku ada janji
yang kubesut sejak enam tahun lalu
harus berani mengambil langkah
mengalahkan diri sendiri
demi tentramku dan tentrammu
ending kisah dalam rilis ulang semalam ini
harus bisa kita ubah.. semampu jiwa menginginkan kejernihan dan ketulusan
mengadaptasi lakon dalam jatah durasi yang tersisa
Maka, tidak boleh ada yang menyerah
Memasrah diri pada kondisi, sementara waktu terus berjalan
Maka pula,
meski belum juga sanggup terucap,
satu kata itu sudah kupersiapkan untukmu,
bantulah aku..
bukankah pada akhirnya kita lebih baik berdamai dengan diri sendiri
dan masa lalu
bukankah pada akhirnya kita harus berbesar hati
mengukuh harap semua rangkaian kisah itu berakhir damai
dan penuh ketenangan
Jakarta, 19 November 2010
Thursday, November 18, 2010
Friday, November 05, 2010
Terserah
Jelmakan aku dalam impianmu,
jelmalah kau dalam impianku
hanya di situlah kita bisa satu
adapun selain itu..
dengan alasan rasa takbisa dipaksa
jadilah kau wanita terburuk terbusuk
memainkan peran dengan senyuman
yang menusuk..
genggaman tanganmu
penuh duri yang menusuk..
menusuk..
jadilah kau apa saja kaumau
aku tidak akan mengutuk
aku tidak akan mengamuk
semua telah berada dalam satu
terserah..
28-10-2010
jelmalah kau dalam impianku
hanya di situlah kita bisa satu
adapun selain itu..
dengan alasan rasa takbisa dipaksa
jadilah kau wanita terburuk terbusuk
memainkan peran dengan senyuman
yang menusuk..
genggaman tanganmu
penuh duri yang menusuk..
menusuk..
jadilah kau apa saja kaumau
aku tidak akan mengutuk
aku tidak akan mengamuk
semua telah berada dalam satu
terserah..
28-10-2010
Subscribe to:
Posts (Atom)